Jumat, 06 Januari 2012

Cara Tuhan

Hujan memukul bumi. Deras tanpa ampun. Sedikit takut, tapi kuberanikan diri untuk beranjak ke kamar mandi.
Lagi-lagi pintu belakang kamar terkunci. Aku selalu malas untuk menguncinya, hanya merapatkan. Pasti ada seseorang yang telah menguncinya, Dia.

Entah sejak kapan aku tak terbangun lagi oleh gerakan dan bunyi-bunyian yang ada. Mungkin aku terlanjur merasa terlalu nyaman untuk berada di sini bersama Dia. Dia yang terkadang polos dan terkadang cerdik, terkadang manja terkadang penuh wibawa.

Lalu aku kembali dari kamar mandi, seperti biasa merapatkan pintu. Dan kini dia telah bergelung dalam selimut -- yang tadi tidak tersampir di atas tubuhnya. Biasanya, aku menyampirkan selimut saat Dia akan terlelap, dan dia menyembunyikan senyum saat diperlakukan demikian.

Beringsut aku masuk dalam selimut yang telah disisihkan untukku, memeluk Dia dan menyadari betapa besar cintaku untuk Dia. Tuhan memang selalu punya cara dan jalan agar kita bahagia, itulah jawaban setiap aku bertanya-tanya: Mengapa tidak dari dulu saja aku menemukannya sehingga aku tidak perlu melakukan perjalanan yang panjang ke Jogja, Jakarta, Batam, hingga kembali lagi di kota kelahiranku ini.

Tersenyumku hingga aku terlelap dalam senyuman. Berkelanaku di alam mimpi. Tak lama pagi menjelang dan Dia telah lebih dulu terbangun, membelaiku penuh sayang, dan aku tahu: ini adalah pagi yang indah, juga hari yang indah. Sepanjang hari yang indah, serasa surga telah nyata, dan aku sangat takut untuk kehilangan Dia.

1 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus